Langsung ke konten
Xbox Rugi Rp4,5 Triliun karena Call of Duty: Black Ops 6 Hadir di Game Pass? Gaming XboxGame PassCall of Duty Black Ops 6MicrosoftIndustri Game

Xbox Rugi Rp4,5 Triliun karena Call of Duty: Black Ops 6 Hadir di Game Pass?

Laporan Bloomberg ungkap Xbox alami kerugian fantastis Rp4,5 triliun setelah Call of Duty: Black Ops 6 rilis hari pertama di Game Pass.

Ival Vallov 3 menit baca 👁 229

Baru-baru ini, laporan dari Bloomberg mengejutkan industri game dengan kabar bahwa divisi Xbox Microsoft disinyalir merugi lebih dari 300 juta dolar AS, atau sekitar Rp4,5 triliun, setelah membawa salah satu game terbesarnya, Call of Duty: Black Ops 6, langsung ke layanan Game Pass pada hari perilisannya. Kabar ini kembali memanaskan perdebatan tentang keberlanjutan model bisnis Game Pass.

Kontroversi di Balik Rilis Day-One Game Pass

Menurut sumber yang berbicara kepada Bloomberg, keputusan Microsoft Gaming untuk menempatkan game-game Xbox tertentu di Game Pass, terutama rilis day-one seperti Call of Duty, ternyata berdampak negatif pada penjualan game dengan margin keuntungan yang lebih tinggi. Karyawan saat ini maupun mantan karyawan Microsoft bahkan menyebut langkah ini sebagai kontroversial secara internal.

Pengembangan game baru memerlukan waktu bertahun-tahun dan biaya ratusan juta dolar. Model bisnis tradisionalnya adalah menjual game seharga 60 hingga 70 dolar AS (sekitar Rp900.000 hingga Rp1.050.000) per game, ditambah pendapatan dari peningkatan dan pembelian dalam game (in-game purchases). Dengan Game Pass, pelanggan memang diuntungkan, tetapi penjualan game secara premium jelas terpukul.

Rangkaian PHK dan Tekanan Profitabilitas

Kerugian yang dilaporkan ini bukan tanpa konteks. Dalam beberapa tahun terakhir, Microsoft telah melakukan serangkaian pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai divisinya, termasuk Xbox.

  • Oktober 2022: Ratusan karyawan diberhentikan dari seluruh divisi.
  • Januari 2023: 10.000 karyawan diberhentikan.
  • Januari 2024: 1.900 karyawan diberhentikan dari divisi Xbox.
  • September 2024: 1.900 karyawan diberhentikan dari divisi Xbox.
  • Januari 2025: Beberapa karyawan diberhentikan dari beberapa divisi, termasuk Xbox.
  • Juli 2025: Banyak karyawan Xbox diberhentikan dan setidaknya empat game dibatalkan.

Menurut Bloomberg, CFO Microsoft, Amy Hood, sempat meminta Microsoft Gaming untuk mencari cara lain meningkatkan keuntungan di divisi Xbox. Hal ini mengindikasikan tekanan profitabilitas yang memang sudah ada sebelumnya.

Game Pass: Antara Manfaat Pelanggan dan Kritik Industri

Akuisisi Activision Blizzard oleh Microsoft, menurut mantan Ketua Federal Trade Commission (FTC), Lina Khan, pada 3 Oktober 2025, telah diikuti oleh kenaikan harga dan PHK yang signifikan, yang merugikan baik gamer maupun pengembang. Ini menunjukkan gambaran yang lebih besar tentang konsolidasi pasar dan dampaknya.

CEO Microsoft Gaming, Phil Spencer, pada Desember 2023, pernah mengungkapkan bahwa Microsoft menghabiskan lebih dari 1 miliar dolar AS (sekitar Rp15 triliun) per tahun untuk mendukung Game Pass. Meski begitu, Presiden Xbox, Sarah Bond, pada Februari 2024, mengumumkan bahwa Game Pass telah memiliki 34 juta pelanggan, menunjukkan basis pengguna yang besar.

Namun, kritik terhadap model ini terus bermunculan. Jurnalis The Game Business, Christopher Dring, pada Januari 2025, mengungkapkan bahwa game Xbox yang termasuk dalam Game Pass berpotensi kehilangan 80 persen dari prediksi penjualan premiumnya. Senada dengan itu, pendiri Arkane Studios, Raphal Colantonio, pada Juli 2025, bahkan menyebut Game Pass sebagai model yang tidak berkelanjutan dan merusak industri game.

Di sisi lain, CEO Microsoft, Satya Nadella, pada Agustus 2025, justru mengungkapkan bahwa pendapatan tahunan Game Pass hampir mencapai 5 miliar dolar AS (sekitar Rp75 triliun) untuk pertama kalinya. Namun, mantan eksekutif PlayStation, Shawn Layden, pada bulan yang sama, menegaskan ketidaksukaannya melihat game-game baru langsung rilis ke layanan berlangganan seperti Game Pass.

Laporan kerugian besar ini menyoroti dilema yang dihadapi Microsoft dengan Game Pass. Di satu sisi, layanan ini sangat menarik bagi pelanggan dan membantu Xbox bersaing dengan platform lain. Di sisi lain, dampaknya terhadap penjualan game premium dan profitabilitas pengembang menjadi pertanyaan besar.

Apakah Game Pass akan terus beradaptasi dengan model yang lebih berkelanjutan, ataukah kontroversi serupa akan terus muncul? Hanya waktu yang bisa menjawab bagaimana strategi jangka panjang Xbox ini akan memengaruhi masa depan industri game secara keseluruhan.

Bagikan artikel

Komentar

Login untuk meninggalkan komentar.

Artikel Terkait